Friday, April 06, 2007

IBU - Iwan Fals

IBU - Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
ibu...
ibu...

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...
ibu...
ibu....

------
padahal saya sudah rencanakan untuk bisa pulang hari ini, bahkan saya sudah janji untuk segera kembali ke Jakarta. tapi apalah daya, ternyata masih banyak yang harus diselesaikan.
maaf kan saya ibu, tunggu saya minggu depan...
baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


Tuesday, April 03, 2007

Konsep dasar Men-Design

"Life Cycle Model" vs "Architectural Design"

Namanya juga rekayasa (engineering), pasti ada hubungannya dengan perancangan/design. dua istilah diatas sempat membuat saya pusing(mungkin sampai sekarang). ternyata kini sudah saatnya kita bicara tentang perancangan, dalam sistem protokol, ada dua konsep mendasar yang harus kita ingat :

Life Cycle Model,
Requirement Phase - Architectural Phase - Implementation Phase - Deployment Phase - Operational Phase. tiap phase tersebut punya milestone(capaian/batas/target/apalah).
kalau phase-nya ada 5, maka milestone-nya ada 4, ini dia :

Requirement, yang mendokumentasikan kemampuan, karakteristik dan kondisi yang harus dipenuhi service. serta menjelaskan apa saja yang diinginkan user dari service tersebut.
Architectural, menjelaskan pengorganisasian system/service,secara struktural, menyangkut composition, interface dan behavior. sehingga jelas arsitektur yang akan diimplementasikan.
Implementation, mengimpementasikan setiap element struktural yang ada, dalam hal ini implementasi dari service.
Deployment, dokumentasi dan aktualisasi dari system/service yang tersedia dan digunakan oleh user.
tidak jauh berbeda dengan Model Design pada umumnya.

Architectural Design,
ternyata ini masih bagian dari Life Cycle Model. begini arsitekturnya :



setiap phase tersebut dihubungkan oleh proses-proses; service design, protocol design, protocol implementation.

satu hal lagi yang harus kita korek lebih dalam lagi secara seksama dan bersama.(smile..). Yaitu pendekatan yang digunakan untuk men-Design, Top-Down Approach atau Bottom-Up Approach ?
saya juga belum sepenuhnya faham (dalam konteks rekayasa protokol).

semoga dapat membantu, dan ayo dong yang lainnya sharing ilmu..
baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


Distributed System (Protocol Engineering)

Distributed system dalam bahasa Indonesia artinya sistem yang terdistribusi. pengertiannya, sekumpulan komputer tunggal yang tersambung dengan jaringan komputer dan dilengkapi dengan sistem perangkat lunak yang terdistribusi, sehingga membentuk suatu fasilitas komputasi yang terintegrasi. cukup panjang, ini saya ambil langsung dari slide pengajaran rekayasa protokol.

tapi secara istilah kita pasti sudah tahu apa itu distributed system (DS). proses yang terkait dengan DS ini adalah :
proses yang konkurent/concurrently, contohnya saya makan sambil mandi pas pergi ke kampus, tiga kegiatan dilakukan dalam satu waktu. bisa jadi saling mempengaruhi.
interact, saling berhubungan untuk mencapai tujuan bersama.
saling tukar messages, melakukan kordinasi melalui komunikasi jaringan.

penerapan secara umum terjadi pada koneksi Internet atau Intranet. ada server,client,dll

Model service dari DS pun bermacam-macam. Beberapa yang populer adalah model client-server, proxy server, multiple server, atau yang lainnya.

contohnya dalam dunia Internet/Jaringan, kita sering menggunakan aplikasi yang berhubungan dengan DS. yang jelas ada 3 sudut pandang ketika kita bicara tentang aplikasi yang terdistribusi:
datanya terdistribusi,
prosesnya terdistribusi,
dan usernya juga terdistribusi.
jadi kalo masih menggunakan 1 komputer tapi yang gunainnya rame-rame, sama saja boong, itu belum DS.

Apa yang dibutuhkan untuk men-Design atau men-Develop Distributed System/Distributed Aplication? ada 2 pendekatan yang diutarakan oleh pak Bayu (dosen Rekayasa Protokol), dengan pendekatan :

  • Middleware-based, pada pendekatan ini DA yang berjalan akan dipecah menjadi modul-modul/objek untuk kemudian didistribusikan (pada middleware-layer) melalui network. middleware bisa dikatakan sebagai perantara(mediation), yaitu antara application-layer dan Operating system-layer. Middleware yang pertama berinteraksi dengan OS untuk kemudian mengakses Network. beberapa format dari Middleware : TP(Transaction Processing), RPC(Remote Procedure Call), MOM(Message-Oriented Middleware), Object-oriented Middleware(CORBA,Java/RMI,COM/DCOM).

  • Protocol-based, berbeda dengan middleware-based, tidak ada perantara(mediation) antara application dan OS. sehingga designer dapat secara bebas mendefinisikan protokol berdasarkan OSI atau TCP/IP atau lainnya. protokol akan langsung berinteraksi dengan OS untuk komunikasi data.
(bener nggak ya...)
slide pak fazmah berkata, "One of the [advantages| disadvantages] of protocol-based approach is we [can| have to] formally validate and verifydesign and implementation." (hii....lucu juga...).

baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


Sunday, April 01, 2007

Menata Diri kembali


Akhir-akhir ini memang sangat terasa sekali berbagai aktifitas yang dilalui. dan kenyataannya, tugas dan amanah saya di BEM STT Telkom sebentar lagi akan berakhir. saya harus kembali menfokuskan diri menjadi mahasiswa, mahasiswa yang bener. target untuk bisa lulus tahun ini sepertinya semakin menipis, tapi paling tidak akan tetap diusahakan. karena tidak ada istilah gagal bagi orang yang terus berusaha.

dimulai dari persiapan akhir kepengurusan, yang tentu saja akan sangat banyak berhubungan dengan hal-hal administrasi keorganisasian. selain itu saya secara pribadi juga harus memikirkan peran saya selanjutnya sebagai pemuda. harus ada langkah pergerakan yang saya usung setelah ini. khan nggak mungkin terus-terusan di BEM, atau nongol di kampus terus.

persiapan lain yang harus saya lakukan adalah mulai membiasakan kembali tinggal dikosan, karena selama ini terlalu sering tidur dikampus. mentang-mentang inet dikampus cepet, malah jadi lupa sama kosan. minimal sekarang kosan saya mulai bersih dan lebih terurus.

selanjutnya mulai rajin kuliah, jangan cabut. duduk depan komputer dan coding. karena mulai banyak yang saya tinggalkan dalam dunia coding. padahal itu penting lho buat anak informatik. kalo dulu banyak baca buku-buku aneh. maka sekarang harus mulai lagi terbiasa dengan bacaan-bacaan informatik, algoritma, jaringan, dan keluarga lainnya.

yang terakhir dan terpenting, mulailah menata hati ini. mau ngapain sekarang? pasca segala aktivitas. jangan malah jadi orang mandul yang mengalami disorientasi akut. menurut saya, apa pun kondisi dan posisi kita, kita harus tetap produktif, tentunya untuk hal-hal yang positif.
dengan mulai menata kembali kedekatan ibadah kita dan penguasaan ilmu kita.

untuk anda semua, sukses selalu..!!
baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


Wednesday, March 21, 2007

Debat Kusir, jangan

Debat kusir sering digunakan orang sebagai istilah untuk diskusi yang tak berguna dan tiada habisnya. Merupakan gabungan dari dua kata, yaitu debat dan kusir. Debat bisa kita artikan dialog aktif dua arah, atau diskusi. Sedangkan kusir itu yang mengemudikan delman, kendaraan zaman dulu yang pakai kuda sebagai penariknya, pasti semua sudah tahu. Bahasa lainnya delman, dokar, sado, atau apalah namanya. Lalu apa hubungan debat kusir ?

Ini cerita yang saya tahu. Coba kita ingat-ingat bagaimana posisi duduk kusir, posisinya membelakangi penumpang, atau menyamping. Karena jika berhadapan dengan penumpang sadonya bisa jadi nabrak. Jadi dari sudut pandangnya saja sudah berbeda, dilihat dari posisi duduknya dengan penumpang.

debat kusir saya artikan sebagai dialog antara kusir dengan penumpangnya.
Contoh pecakapan :
Penumpang : “wah…. Pemandangannya bagus ya…” (disamping jalan ada sawah terhampar luas..)
Kusir : “apanya yang bagus bu, dari tadi yang diliat Cuma jalan lurus aja kok, bosenin” (pandangan kusir kedepan, yang ada cuma jalan lurus).

Ya nggak nyambung…!! Dan kalau dilanjutin, bakalan makin ngelantur.
Atau ada contoh lain.

Misal pak kusir tiba-tiba kentut, otomatis alirannya langsung ke penumpang (karena membelakangi tadi). Nah, penumpang akan bertanya, “bapak kentut ya…kok saya nyium bau kentut sih pak !! ”, tanya penumpang. Pak kusir berkata, “ah… perasaan nggak…ini mah bau kotoran kuda”, (karena kusir langsung menghadap pada pantat kuda). “nggak kok saya yakin ini bau kentut”, timpal sang penumpang. “lho ibu jangan nuduh saya gitu dong, saya nggak nyium bau kentut, yang saya cium kotoran kuda”, sanggah kusir. “oohhh…. Gitu, jadi bapak nggak mau ngaku kalo udah ngentutin saya”, kata penumpang, “kalo gitu saya turun disini aja…”, kata penumpang marah (padahal emang sudah nyampe tempat tujuan). “oi… bu, bayar dong, kok maunya gratisan”, kata kusir makin panas. “enak aja, saya nggak mau bayar gara-gara nyium kentut bapak !!”, kata penumpang sambil kabur sewot.

Tuh..kan makin nggak bener. Ini Cuma ilustrasi dari debat kusir. Diawali dengan sudut pandang yang nggak nyambung, ditambah lagi masing-masing pihak egois, lalu diakhiri dengan pertengkaran.
baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


Monday, March 19, 2007

Perkembangan Teknologi vs Regulasi ICT

Perkembangan teknologi secara global saat ini sangat pesat. Namun sayangnya indonesia tidak sepenuhnya bisa mengikuti perkembangan itu. Selain karena faktor keilmuan yang masih minim, ada juga masalah dukungan pemerintah lewat aturan hukum yang tidak seiring sejalan dengan teknologi itu sendiri. Sehingga penerapan teknologi mutakhir di Indonesia sering tidak up to date.

Dari pengertiannya regulasi itu sendiri, ternyata masih banyak pihak yang berselisih. Yang sering dilakukan oleh pemerintah adalah menjadikan regulasi berisi larangan-larangan yang seharusnya dilakukan setiap pelaku IT. Padahal dari pandangan praktisi dan dunia industri, regulasi seharusnya mengatur, bukan sekedar melarang, bagaimana penerapan teknologi dilakukan. Sedangkan masyarakat umum, justru menjerit karena ternyata regulasi yang ada seharusnya berorientasi untuk memperjelas kontribusi penerapan teknologi bagi kesejahteraan masyarakat. Lalu bagaimana sebetulnya pengertian dari regulasi itu sendiri ?

Dampak dari ketidakjelasan ini salah satunya adalah, permainan kepentingan pihak tertentu. Kalau dari sudut pandang dunia industri pengaturan yang diharapkan pasti menyangkut cakupan bisnis mereka. Termasuk bagaimana persaingan dengan provider lainnya, dan bagaimana keuntungan bisa mereka peroleh. Masyarakat tentunya menginginkan adanya kejelasan nasib mereka jika teknologi diterapkan. Misalnya saja bagaimana pemerintah masih setengah hati untuk menerapkan teknologi Voip, karena alasan berpengaruh negatif bagi industri telekomunikasi yang lain. Padahal masalahnya ada pada biaya yang murah, Voip jelas memiliki biaya lebih murah dibanding telepon yang umum digunakan saat ini. Seharusnya regulasi yang dibuat bisa mengatur penerapan teknologi Voip bagi telepon murah, agar masyarakat kelas bawah juga bisa menikmati teknologi.

Regulasi ICT tenyata tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak hal yang akan berkaitan disana. Sampai dimana batasan ICT itu sendiri, masih sangat luas. Kalau dulu kita bisa saja mengartikan pertukaran suara (voice), lewat media tembaga. Tapi sekarang sudah semakin canggih. Tidak hanya suara, tapi disana juga ada data, yang bisa berarti image, document, music & video, dan banyak layanan lainnya. Dan tidak hanya itu, medianya pun sudah berkembang menggunakan frekuensi. Bahkan teknologi ini bisa saja terintegrasi melalui jaringan, perangkat lunak, phone, dan perangkat elektronik lainnya. Sehingga pertanyaannya adalah bagian mana dari teknologi ini yang harus diatur dan bagaimana cara mengaturnya ?

Perkembangan teknologi justru bisa terhambat karena tidak adanya regulasi. Dan ini sudah kita rasakan ketika pembahasan RUU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang dilakukan pemerintah dan DPR semakin berlarut-larut. Padahal RUU ITE itu sangat penting keberadaannya untuk mengatur transaksi elektronik yang sering kita lakukan di Internet. Akibatnya Indonesia masih tidak bisa mengakses e-commerce untuk transaksi dunia, atau dengan kata lain kita belum bisa beli barang lewat internet.

Kondisinya saat ini, pemerintah selalu terlambat dalam melihat perkembangan teknologi. Dan memiliki respon yang lambat untuk bisa membuat regulasinya. Alasan SDM selalu menjadi kambing hitam permasalahan, walaupun saat ini pembahasan regulasi terkadang telah melibatkan masyarakat IT. Tapi tetap saja dengan pengetahuan yang minim dari SDM pemerintah tentang teknologi, ditambah lagi pembahasan yang dilakukan selalu berlarut-larut. Belum lagi para regulator terkesan mempolitisir aturan-aturan yang ada, demi kepentingan politik atau bisnis.

Sekarang tinggal itikad baik dan komitmen dari semua pihak (termasuk pemerintah) untuk mendukung perkembangan IT di tanah air. Tidak dilakukan setengah hati seperti halnya yang dilakukan pemerintah untuk IGOS(Indonesia Go Open Source). Karena dengan begitu para pengembang teknologi pun akan melakukan riset dan penengembangan dengan sepenuh hati. Tentunya demi kemajuan bangsa, bukan pengusaha.
baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


 

Followers

Social Share

[ttm]. topan tambunan menulis Copyright © 2009 Gadget Blog is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal