Sunday, July 15, 2007

Di Bawah Lindungan Kabah

Kisah percintaan dua insan memang selalu membawa perasaan yang mengharu biru. Salah satunya adalah kisah ketulusan cinta Hamid yang bersambut oleh kerinduan Zainab akan dirinya. Kisah ini dituliskan oleh Hamka dengan bahasa yang sangat mendalam dalam bukunya ini, Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Hamid seorang yang meyedihkan hidupnya, sejak kecil menjadi yatim, hidup miskin dan serba kekurangan. Harus berhadapan dengan kenyataan yang menaungi hatinya, akan kebesaran cintanya yang terlarang dengan Zainab. Adatlah yang membuat cinta mereka terlarang. Karena Zaenab seorang anak kaya raya dan berbudi pekerti, keluarganya adalah sosok keluarga terpandang saat itu. Orang tuanya mendapatkan harta kekayaan, karena mereka dulunya seorang saudagar yang kaya raya. Dari kebaikan hati orang kaya itulah, Hamid dapat meluluskan cita-citanya menuntut ilmu. Padahal dia orang miskin, yang untuk makan saja sangat susah, tapi akhirnya bisa juga bersekolah.

Semua itu dilakukan keluarga Ja’far (orang kaya itu) karena melihat kebaikan budi pekerti Hamid dan rasa kasihan, juga agar ada teman anak perempuan mereka untuk bersekolah bersama. Zaenab anak perempuan itu, yang dianggap sebagai adik sendiri oleh Hamid. Sampai akhirnya mereka berpisah, karena Zaenab mulai dewasa, dan berdasarkan adat dia harus dipingit.

Tapi ternyata persaudaraan dan waktu berkata lain, kedekatan itu berbuah rasa cinta dan rindu yang mendalam. Tapi itu rindu terlarang, karena terbendung adat istiadat.
“Memang anak, … cinta itu adil sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak memperbedakan-bedakan diantara raja-raja dengan orang minta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang hina dengan orang mulia, bahkan kadang-kadang tiada juga berbeda baginya antara bangsa dengan bangsa. Tetapi aturan pergaulan hidup, tidak membiarkan yang demikian itu berlaku. Orang sebagai kita ini telah dicap dengan derajat bawah atau orang kebanyakan, sedang mereka diberi nama cabang atas, cabang atas ada kalanya karena pangkat dan ada kalanya karena harta benda…”(hal.22), begitulah ungkapan ibunda Hamid atas perasaan cintanya kepada Zaenab, sampai akhirnya Hamid memutuskan untuk menjauhkan diri, khawatir cinta bertepuk sebelah tangan.

Kasih tak sampai, Kasihan…

Hamka, cukup menarik dalam membawa kisah ini. Dalam kegelisahan hatinya, Hamid menggantungkan diri pada Kuasa Illahi. Karena dia yakin hanya Allah lah tempat menambatkan diri, tempat berserah diri atas segala masalah. Pelarian itu sampai akhirnya membawa Hamid ke negeri Arab, tepatnya Mekkah. Dibawah lindungan Ka’bah Hamid bersimpuh diri atas segala permasalahan batinnya, berharap pertolongan ada kekuatan untuk tegar menghadapi kenyataan pahit ini. Sampai akhirnya dia tahu cintanya selama ini ternyata dirasakan juga oleh Zaenab. Tapi itu semua sudah terlambat, karena dua tahun berpisah adalah waktu yang lama bagi mereka, sampai akhirnya terombang-ambing dalam kerindunan tanpa akhir. Hingga ajal yang mengakhiri.

Kisah roman ini saya nilai telah mengajarkan kepada kita bagaimana ketulusan cinta itu dilahirkan. Bagaimana seharusnya manusia menghadapi segala beban hidupnya, dan tentunya mengajarkan kepada kita apa makna kecintaan pada dua insan manusia itu. Nilai luhurnya mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menyikapi hidup ini, ditambah lagi kedalaman makna dan kata-katanya, yang membuat kita hanyut untuk merasakan pula apa yang mereka rasakan.

tapi jangan salah, ada lagi lho karangan HAMKA yang juga lebih menyentuh, judulnya tenggelamnya kapal van der wick (aduh nulisnya salah nih), nanti akan saya posting resensinya.
but, ternyata pernah ada juga lho film berjudul di bawah lindungan kabah, cuman kok alur ceritanya beda ya....
OMG! it's a great article, Share Oh!


6 komentar:

Rey on Friday, 05 October, 2007 said...

Yahhh... akhirnya meninggal yaa? sapa yg meninggal?
Ending yg bagus sih utk sebuah novel, soalnya gak hepi ending, cuman sedih bo'...
Tapi dalam realita jgn sampe meninggal lah...

toufan tambunan on Thursday, 18 October, 2007 said...

ampun mba' rey....
kalo ngak salah dua-duanya meninggal, karena kangen + sakit2x-an,
....:D

Dedi Setiawan said...

weiiizzz... kisah cinta booo'.. kayak kisah cinta mas topan dg mbaaaakkk.. (ehm, rahasia ah ^_^, nti gw diomelin lg.... ) ; peace... peace... peacee...

btw, nih kok ngasih komen aja repot yakz...

Dedi Setiawan said...

dhedhi.wordpress.com

neh comment... gw yang gaptek or commontnya yang ga user friendly sih.. ah.. bingung ah... ^_^

Angel on Wednesday, 18 February, 2009 said...

namanya jga roman..
pazti endingnya mati cmuaa ..
hehehe

gustin on Saturday, 15 January, 2011 said...

novel yang keren,,mpe nangis dikelas,,wlopun mreka g bs bareng di dunia ayang fana ni,,msih da tmpat yang luas yntuk mereka nantinya,,,hamka,,luph u lah,,,

 
There was an error in this gadget

Followers

Social Share

[ttm]. topan tambunan menulis Copyright © 2009 Gadget Blog is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal