Wednesday, March 22, 2006

Demokratisasi Kampus

Prinsip dasar sebuah system demokrasi adalah dengan adanya kuasa pemerintahan pada rakyat. Atau dalam aplikasi modern saat ini adalah dengan adanya pemimpin yang dipilih oleh rakyat. Sehingga secara langsung rakyat juga berhak untuk mengawasi jalannya pemerintahan yang ada. Seperti halnya yang juga terjadi pada banyak Negara di dunia saat ini, sistem demokrasi begitu populernya. Malahan orang-orang yang pro-demokrasi meng-klaim bahwa sistem inilah yang memjadi resep jitu Negara-negara maju, dengan bukti banyak Negara yang sukses berasaskan demokrasi.

Konsep seperti inilah yang kemudian diadobsi oleh bangsa Indonesia, dan melahirkan modifikasi baru dengan asas pancasila. Para pelopor bangsa ini berharap konsep tersebut bisa diterapkan lebih jauh, sehingga bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar. Dan ternyata penerapan sistem kenegaraan tersebut berdampak pula pada setiap sector kehidupan masyarakat. Sebagai contoh kita akan mendapati pengaturan daerah secara demokrasi, atau mungkin landsan partai yang menjunjung demokrasi, sampai pada suasana kelas murid-murid SD juga diterapkan budaya demokrasi. Bahkan wajar ketika ibu-ibu sedang arisan atau kumpul-kumpul juga menggunakan metode demokrasi.

Begitu kuatnya pemikiran demokrasi pada tataran masyarakat, sehingga pola ini bergerak pula di lingkungan mahasiswa. Pada tahun 90’ an, sering dikenal istilah senat mahasiswa, yang sebenarnya bagian dari trias politika-nya demokrasi. Senat yang waktu itu memiliki peran eksekutif, kini di-era 2000-an berubah menjadi badan eksekutif mahasiswa (disingkat BEM). Dan seperti biasanya akan ditambah fungsi legistalatif yang dimainkan oleh dewan mahasiswa. Ini adalah suatu hal yang lumrah terjadi pada iklim demokrasi. Dimana setiap mahasiswa tentunya berhak memilih siapa pemimpin mereka, bagaimana nasib mereka, dan banyak lainnya.

Namun iklim demokrasi di STT Telkom sepertinya tidak gayung bersambut, mungkin sudah hal yang lumrah juga. Kondisi mahasiswa teknik selalu diidentikkan dengan individu yang autis, apatis dan egois (semuanya ada is -nya). Mahasiswa bahkan tidak sempat memikirkan lingkungan sekitarnya, dan terlebih lagi dirinya sendiri. Sampai saat ini sangat sulit untuk berfikir solusi terhadap permasalahan yang ada di kampus. Banyak orang hanya bisa menuntut tanpa mau memikirkan perubahan seperti apa yang seharusnya dilakukan. Dan lebih miris lagi ketika sedikit sekali mahasiswa yang mau berjuang untuk perubahan tersebut. Seperti kasus pembentukan dewan mahasiswa beberapa hari yang lalu, kenapa begitu sulitnya mencari orang-orang yang mau ‘duduk manis‘ jadi anggota dewan. Padahal jelas saat itu banyak sekali orang yang melontarkan kritiknya untuk dewan. Dan sekarang terjadi juga hal yang sama, yaitu pada tataran eksekutif, banyak mahasiswa saat ini menghujat kebijakan BEM yang dinilai tidak demokrasi, namun mengapa tidak ada orang yang mau menggantikan ‘kebobrokan’ BEM sekarang agar lebih baik.

Dan memang demokrasi sering dihadapkan pada kondisi yang dilematis seperti ini. Itulah karakter hidup bermasyarakat. Sehingga sejauh mana kemudian muncul kesadaran mahasiswa untuk kemudian memanfaatkan peluang yang dimilikinya dalam demokrasi ini. Konsep kekinian yang seharusnya melekat adalah ketika demokrasi yang saat ini diusung memunculkan banyak protes, maka selayaknya demokrasi tersebut digulingkan dengan pemerintahan yang lebih baik.
baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


Sunday, March 19, 2006

Kampus ini, Kenapa ?

Kondisi kampus sekarang benar-benar aneh. banyak orang sekarang saling memojokkan satu sama lain dengan berbagai bentuk. ada yang melakukannya demi kepentingan pribadi, demi menegakkan demokrasi, demi popularitas, sampai dengan cuma iseng saja, biar kampus lebih dinamis. pokoknya kenyataan yang terjadi memang makin banyak pihak-pihak yang keihatannya aktif.

wacana yang terbangun pun saat ini lebih sering diarahkan untuk saling menjatuhkan. ditambah lagi status beberapa organisasi yang memang sudah dipenghujung usia. seperti inilah yang banyak dimanfaatkan orang-orang untuk saling serang tadi dengan harapan LPJ-nya bisa bermasalah.

namun ada satu fenomena aneh yang terjadi. bahwa beberapa pihak yang menjadi penetang 'pemerintah', justru tidak berani menunjukkan eksistensinya. kebanyakan meraka mengusung tema bersama dalam bentukan komunitas(yang namanya bermacam-macam), tanpa pernah publik tau siapa mereka sebenarnya. entah metode apa yang diterapkan, sehingga mereka sendiri malu dengan identitas dirinya.

terlepas dari siapa yang benar, tapi ada indikasi bahwa konspirasi seperti ini lebih cenderung kepada rekayasa beberapa pihak saja. karena gerakannya benar-benar hanya terpusat pada satu titik, dan tanpa kesatuan identitas tadi. padahal memang sangat sedikit sekali orang yang saat ini mau dan berani untuk bicara banyak. mahasiswa di kampung (s) ini lebih suka 'ajojing' atau malahan belajar. dsm

saya sendiri lebih melihat kondisi seperti ini sebagai upaya untuk menciptakan suasana kondusif, bukan untuk memperjuangkan hak-hak yang sebenarnya menjadi tuntutan.
baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


Saturday, March 11, 2006

Kampanye Maksiat, ala Media

kalau kita lihat sekarang ini, banyak media televisi yang menayangkan sinetron berbau keagamaan. tapi justru sebaliknya malah tidak memiliki bobot pendidikan agama. ide cerita yang digulirkan adalah seputar perbuatan maksiat atau perbuatan tercela atau perbuatan kriminal atau perbuatan buruk lainnya yang dilakukan manusia beragama. dan kemudian manusia itu mendapatkan azab dari Tuhannya. atau sedikit sekali contoh yang manusianya tobat atau menyesal kepada Tuhannya. digambarkan seseorang akan mengalami penyiksaan didunia dan akhirat, mulai dari tubuh penuh belatung sampai penuh nanah. hal ini sangat mengesankan bahwa untuk beragama itu banyak aturannya, dan banyak siksaannya.

ditambah lagi ilustrasi yang diberikan justru memberikan contoh bagaimana berbuat maksiat. bagaimana caranya terjerumus dalam dunia narkoba, bagaimana jalur hiduo seorang koruptor, langkah-langkah menjadi pelacur, dan banyak lagi. adegan syur pun, tidak bisa dihindari. lihat saja ketika akan memperagakan tindak prostitusi antara anak dan ibu tiri, sampai adegannya pun digambarkan. mulai dari mecari kesempatan, menggoda, merayu, trus dapat kesempatan dan kemudian melakukan hubungan setan. memang untuk adegan intim tidak divisualisasikan, namun tetap saja ada adegan pra dan pasca yang untuk orang umum(misal anak) adalah sesuatu yang baru.

jelas ini adalah suatu model baru dari promosi setan. walaupun diatas tadi hanyalah satu contoh dari sekian banyak ide cerita. seolah-olah media mengkampanyekan bagaiman caranya berbuat maksiat. ditambah lagi menampilkan adegan yang syur atau pun menantang. dan parahnya lagi media beropini bahwa dalam agama itu kita akan banyak mendapatkan aturan-aturan dan siksaan pedih.

alangkah baiknya jika memang untuk membawa misi keagamaan, maka dibalik saja ide ceritanya. gambarkanlah bagaimana nikmatnya hidup beragama, hidup tanpa maksiat, hidup penuh toleransi, dan kebaikan lainnya. tunjukkan bahwa mentaati perintah agama itu akan membawa keberkahan bagi manusia, membuat hidup kita semakin tenang. karena jika kita analogikan kegiatan orang yang beragama dengan yang tidka beragama, maka keduanya tetap memungkinkan untuk melakukan perbuatan dosa. tapi jika orang yang beragama dengan baik sudah tentu kehidupannya juga akan baik. dan ketika media selalu menayangkan kebaikan-kebaikan tersebut maka masyarakat kita pun akan terbiasa dengan melihat kebaikan dan menteladaninya. sehingga tidak mustahil jika nantinya Buser akan kehabisan berita.
baca selengkapnya...


OMG! it's a great article, Share Oh!


 
There was an error in this gadget

Followers

Social Share

[ttm]. topan tambunan menulis Copyright © 2009 Gadget Blog is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal