Friday, November 17, 2006

Mengapa kedatangan Bush harus ditolak ??

Gelombang penolakan terhadap rencana kedatangan Presiden George W Bush ke Indonesia sepertinya sudah menjadi suatu keharusan. Mayoritas kelompok masyarakat menolak kunjungan tersebut (dan memang belum ada kelompok yang menyatakan penerimaannya), tentunya dengan berbagai macam alasan. Namun dibalik itu semua, pembenaran seperti apa yang semestinya kita ketahui tentang permasalahan ini, akan coba dijelaskan disini.

Kita akan mulai dari proses kedatangan Bush kali ini. Pertemuan yang rencananya akan diadakan di istana Bogor itu, merupakan kunjungan atas permintaan pemerintahan AS sendiri. Dan pemerintah RI selaku tuan rumah berusaha untuk menyambut tamunya, sesuai


dengan standar protokoler tamu negara yang berlaku dan dengan kesepakatan kedua negara. Hal ini dipermasalahkan karena sikap berlebihan pemerintah RI pada persiapan menyambut tamunya itu, sampai tersiar kabar menghabiskan dana sekitar 6 miliar rupiah (hanya untuk pengamanan dan pembangunan heli pad). Belum lagi penjagaan yang begitu ketat (sampai terbagi dalam 5 ring keamanan dengan radius lebih dari 2 km), akses komunikasi publik yang diputus, jalan yang ditutup, sekolah diliburkan, sampai pengerahan keamanan khusus dari US sendiri. Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kunjungan yang pernah dilakukan SBY ke USA beberapa waktu lalu, yang tidak mendapatkan perlakuan se-istimewa ini. Dan stigma negatif dari USA juga muncul, terutama kekhawatiran yang menganggap akan adanya bahaya teroris di Indonesia. Beberapa kalangan menganggap ini sebagai penghinaan dari negara adikuasa yang suka menebarkan peperangan dengan negara lain.



Tapi masalah penyambutan tidaklah begitu penting bila dibandingkan dengan kedudukan USA dimata dunia. Dimulai dengan munculnya gerakan anti-Amerika, semenjak kebijakan luar negeri Bush untuk membasmi teroris dimuka dunia ini. Karena justru kita bisa melihat sendiri siapa teroris yang sebenarnya. Sikap ini telah menimbulkan berbagai pandang negatif bagi umat muslim, dan Indonesia adalah salah satu negara dengan mayoritas muslim. Walaupun sebenarnya tuduhan teroris yang diberikan Bush lebih mengena kepada negara-negara yang tidak sejalan dengan keinginan Amerika. Banyak yang sudah jadi korban atau menunggu giliran, diantaranya Afganistan, Irak, Iran, Suriah, Korea Utara, Venezuela, Malaysia, Indonesia, Pakistan, dan banyak lagi. Bentuk Agresi yang dilakukan pun bermacam-macam, mulai dari peperangan sampai dengan embargo, tentunya dibantu oleh para sekutunya yang juga mencari keuntungan dari situasi ini. Maka wajar saja banyak negara yang menyatakan sikap anti-amerika, termasuk Indonesia. Alhasil dengan kebijakan perang melawan teroris seperti ini Bush telah berhasil menewaskan lebih dari 650 ribu warga sipil Irak (belum termasuk korban dari tentara Bush dan sekutunya) dalam waktu 3 tahun, sampai Hugo Chaves mengutuk Bush sebagai iblis penjahat perang. Amerika dibawah kepemimpinan Bush juga dikenal dengan standar ganda-nya, terhadap permasalahan dunia yang melibatkan kepentingan Amerika dan sekutunya. Termasuk ekspansi sayap kapitalis Amerika, yang dilakukan Bush kepada negara berkembang. Isu senjata pemusnah massal juga salah satu dongeng siang yang selalu Amerika lagukan, seperti yang dialami Afganistan, Libya, Irak, Iran, Korut dan lainnya, tentu saja ada makna lain dibalik dongeng itu.

Masih banyak pertimbangan lainnya tentang sejauh mana kebencian rakyat dunia kepada Bush. Namun satu lagi yang bisa menjadi catatan bagi kita sebagai alasan penolakan kedatangan Bush, yaitu situasi politik dalam negeri Amerika sendiri. Kepercayaan publik Amerika terhadap Bush tidak jauh berbeda dengan pandangan rakyat dunia. Image Bush sudah teramat buruk, baik karena kebijakan perangnya yang mengabaikan faktor perekonomian dalam negeri, sampai mengakibatkan defisit anggaran . Jadilah Bush sebagai presiden yang maniak perang dimata rakyatnya. Kondisi ini diperburuk lagi dengan kekalahan telak republik dari demokrat untuk pemilu legislatif AS, menambah kuat kesan penolakan warga Amerika terhadap keberadaaan Bush sebagai pemimpin republik. Maka apapun agenda kedatangan Bush nantinya ke Indonesia, tidak akan terlalu penting untuk membahas hubungannya dengan kebijakan Bush. Karena sebentar lagi Bush (atau republik) tidak menjadi penguasa di AS. Lalu buat apa kunjungan tersebut, maka tersiar kabar ini merupakan upaya untuk memperbaiki citra Bush kembali dimata negara lain (seperti Indonesia). Dan menurut Menlu Hasan Wirayuda, agenda pembahasannya pun adalah masalah pendidikan dan kesehatan. Sekali lagi kita harus cermati betul siapa Bush saat ini, tidak lebih dari sosok presiden ambisius yang kecewa karena partainya kalah telak, bahkan menteri pertahanannya pun telah mengundurkan diri.

Ini hanyalah sepenggal persepsi masyarakat nasional dan internasional yang coba dirangkum untuk menggambarkan sosok Bush, presiden yang dibenci rakyat dunia, teroris yang tiriak teroris, vampire penghidap sumber daya negara berkembang. Penolakkan terhadap kedatangan Bush ke Bogor tanggal 20 nanti, dapat menaikkan opini internasional terhadap kekeliruan yang dilakukan Bush tentang teroris. Dan membuktikan bahwa negara seperti Indonesia pun (yang kekuatan ekonomi dan militernya biasa saja) mampu menunjukkan ketidaksenangannya terhadap Bush, pemimpin negara adikuasa. Seperti yang dikatakan tokoh politik Hasyim Muzadi dan ketua MPR RI, bahwa kita juga harus mampu bertindak cerdas dan berkualitas terhadap kunjungan Bush ke Indonesia, dengan tidak berbuat anarkis. Kalau hanya unjuk rasa, itu masih wajar, karena merupakan hak setiap orang untuk mengapresiasikan pendapatnya dimuka publik.

OMG! it's a great article, Share Oh!


0 komentar:

 
There was an error in this gadget

Followers

Social Share

[ttm]. topan tambunan menulis Copyright © 2009 Gadget Blog is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal