Monday, January 08, 2007

Wajah Transportasi Indonesia

Mesin Penjemput Maut.

Wajah dunia transportasi indonesia masih terus buruk sampai saat ini. Kecelakaan datang silih berganti seperti menjadi suatu hal yang lumrah. Sampai muncul sebuah pembenaran dari penyedia jasa transporatasi, bahwa ini adalah kuasa Tuhan, sudah takdirnya. Tapi benarkah semudah itu ?

Kenyataan yang terjadi saat ini memang masyarakat sangat tergiur dengan adanya tarif murah transportasi. Dan memang inilah pasar utama dari bisnis transportasi di Indonesia. Lihat saja betapa membludaknya pengguna jasa Bus dan Kereta api (terutama kelas ekonomi) dibanding jasa lainnya. Maka wajar ketika ada akses yang lebih cepat, dengan pesawat dan lebih murah pula, masyarakat langsung merespon. Tetap saja dengan harapan dan tujuan untuk sampai ditempat tujuan dengan selamat.

Peluang yang ada itulah yang membuat para operator jasa transportasi untuk berlomba-lomba pasang tarif murah. Murah tapi cepat, mungkin?. Demi tarif yang murah itu, kenyamanan dan keselamatan penumpang diabaikan. Para operator diindikasikan (pemberitaan media) mengorbankan biaya maintenance armadanya, demi menekan pengeluaran operasional. Pengecekan pun dilakukan seadanya dan seperlunya, bahkan kelaikan armadanya pun diragukan. Banyak armada pesawat terbang yang memang sudah tua, ditambah lagi onderdilnya yang sudah rusak dan tidak diganti.

Penumpang sebagai konsumen memiliki hak penuh atas keselamatan dirinya sampai dengan tempat tujuan. Hal ini seperti yang bisa kita lihat pada UU no.8 tahun 1999, tentang perlindungan konsumen. Dalam UU ini penumpang berhak untuk mendapatkan keselamatan dan berhak pula untuk melakukan gugatan bila dirugikan. Secara langsung jelas pihak Adam Air, KM.Senopati, KM.Bunga Anggrek dan lainnya, telah melakukan pelanggaran fatal, yaitu mengorbankan nyawa penumpangnya. Dan ini sebenarnya tidak hanya terjadi saat ini, tapi sering. Pesawat, Kereta api, Bus, Kapal, dll, semuanya telah menjadi mesin kematian bagi masyarakat kita.

Kita tidak berbicara tentang keberadaan Tuhan, yang kita bicarakan adalah keseriusan manusianya. Memang maut bisa datang kapan saja, tapi bukan berarti kita bisa seenaknya (mencari mati). Pemerintah seharusnya bisa bersikap lebih tegas lagi terhadap permasalahan ini. Tidak sekedar lip service (yang saat ini terjadi dibeberapa media) yang mengatakan sistem kita sudah mulai baik, seperti yang dikatakan Hatta Rajasa. Kebobrokan operator jangan ditutup-tutupi, dan operator pun harus meningkatkan pelayanannya bukan sekedar benefit. Kita sebagai konsumen harus mampu bersikap selektif dalam menggunakan jasa transportasi yang ada, minimal mampu untuk melakukan protes ketika kita memang dirugikan. Sistem yang berjalan dengan baik perlu kita contoh seperti keseriusan negara-negara tetangga kita seperti malaysia, singapur, australia dalam menangani masalah transportasi. Jika kita bandingkan dengan kondisi dinegara kita, sangat miris sekali ketika penanganan bencana/kecelakaan masih sangat miskin dan lambat. Bahkan bangkainya pun sulit kita temukan.




OMG! it's a great article, Share Oh!


0 komentar:

 
There was an error in this gadget

Followers

Social Share

[ttm]. topan tambunan menulis Copyright © 2009 Gadget Blog is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal